Emotional Healing Bareng Adjie : Sibuk Kerja Hingga Lupa Jatuh Cinta

April 15, 2019




Note : Ini adalah tulisan yang ku rangkum dari utas akun Adjie Santosoputro dengan tema #EmotionalHealingBarengAdjie. Aku juga sudah mendapatkan izin untuk menuangkannya kembali dalam blog ini. Selamat membaca (dengan perlahan) 😚

Sejak kecil, kita dididik berpola pikir: Biar sukses, harus kerja keras. Kita pun terlatih memikirkan masa depan beserta segala impian yang belum kita punya. Akibatnya, kita menganggap istirahat sebagai sesuatu yang enggak produktif. Bahkan istirahat itu sesuatu yang salah.

Pola pikir: “Hidup adalah perlombaan meraih kekayaan sebanyak mungkin, sehingga tiap detik harus menghasilkan uang”, sepertinya juga udah mendarah daging pada diri saya. Jadi terpenjara dalam sibuk kerja, sibuk mencari untung, sibuk mengincar kuasa, sibuk berburu perhatian, dan sebagainya.

Kalau enggak ngapa-ngapain, diam, apalagi sendirian, mau tidak mau jadi berhadapan dengan diri sendiri. Muncul rasa bosan bercampur takut. Makanya terus berusaha menghindarinya sekuat tenaga dengan menyibukkan diri. Padahal yang kita perlukan: berlatih nyaman dengan diri sendiri.

Karena serba khawatir, lalu terus menyibukkan diri dengan bekerja, berusaha memastikan masa depan. Tentu saja ini dilakukan biar bisa merasa aman. Kenyataannya? Masa depan selalu tidak pasti kan? Jadi upaya ini semacam: bocornya di kamar, yang dibenerin pagarnya. Salah langkah.

“Kan kalau sibuk kerja, terus kaya, jadi bahagia, enggak khawatir lagi.” Ukuran kayanya seberapa? Emang yakin kalau udah kaya, beneran bahagia dan enggak khawatir lagi? Ada lho orang termasuk orang terkaya, tetap serba takut perihal masa depan. Ada orang yang pas-pas-an, tapi bahagia.

Dulu pernah, saya rajin melahap buku-buku motivasi dan ikut seminarnya. Setiap ditanya, “Apa kabar?” saya jawab, “Luar biasa! Dahsyat! Menggelegar!” Pokoknya maksimal berpikir positif, berlebihan optimis. Mengerahkan tenaga abis-abisan menggapai impian yang juga tak ada abisnya.

Sesuatu yang heroik begini emang memuaskan. Keren. Tapi saya pun perlu ingat, mesti sadar diri. Kenyataan enggak bisa sepenuhnya saya kendalikan sesuai ingin. Enggak salah saya kerja, tapi perlu juga beristirahat. Enggak salah saya berusaha meraih, tapi perlu pula mengikhlaskan.

Jadi kalau kita terus mikirin masa depan, kita malah enggak bisa bertemu dengan bahagia. Karena bahagia hanya ada di sini-kini. Kita perlu melatih pikiran untuk tenang dan sadar di kekinian (mindfulness). Namun, banyak orang yang entah sadar atau tidak terus larut dalam takut.

Cenderung lebih percaya motivator dan ilmu yang mengajarkan soal meraih kesuksesan, harus punya impian sebesar mungkin, kerja keras mendapatkan keuntungan sebesar mungkin. Ketimbang percaya ajaran-ajaran indah perihal ikhlas berserah, melepaskan keinginan untuk mengendalikan.

Sibuk kerja karena begitu takut akan masa depan akan tanpa ampun menguras tenaga kita. Jadi asing dengan diri sendiri. Menjauh dari bahagia yang hanya tersedia di sini-kini. Sulit untuk saling mencintai. Dan kita jadi manusia-manusia yang lupa jatuh cinta.

Ketika bertemu seseorang tercinta, iya, tubuh bertemu karena tubuh berada di sini-kini. Tapi pikiran tidak bertemu. Pikiran ngelayap ke masa depan, sibuk kerja. Kalau tenaga terkuras, kita jadi sulit mencintai. Karena mencintai perlu tenaga, apalagi kalau harus menanggung rindu.

Bagikan tulisan ini pada lebih banyak orang agar sampai pada mereka yang sedang membutuhkan. Tetap benderang, tetap tangguh ya. Terima kasih. Sekian.

You Might Also Like

0 komentar

SUBSCRIBE NEWSLETTER

Get an email of every new post! We'll never share your address.