Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sebuah Alasan untuk Menikah


Meski sering terlintas dalam benak andai saya memiliki keluarga sendiri - suami dan anak, saya masih tak menyangka jika saya akan benar-benar menikah. Bayangkan saja sebuah konsep dimana kita melakukan sebuah perjanjian bersama seorang laki-laki "asing" yang baru dikenal selama beberapa waktu, lalu kemudian tinggal bersama, selamanya. Apakah hidup kita selanjutnya akan baik-baik saja? Atau jangan-jangan kita justru akan sering berselisih paham karena hal-hal kecil?
AAAAAAAAAAA!!!

Rasanya benar-benar luar biasa!

Setelah beberapa kali gagal membina hubungan percintaan, saya merasa sangat lelah. Tenaga saya habis untuk menyembuhkan luka yang berkali-kali menganga, semuanya hanya agar pikiran saya tetap waras. Berulang kali saya terpaksa menelan kecewa akibat percaya pada janji yang dengan banyak harap saya doakan agar menjadi nyata. Begitulah saya seolah keledai yang sengaja jatuh di lubang yang sama. Benar-benar menyedihkan bukan?

Saya bahkan pernah berdoa pada Tuhan agar Dia mengambil hati saya karena takut terluka lagi. Sampai akhirnya setelah beberapa tahun berlalu saya merasa ada yang tidak benar dari permintaan yang pernah saya panjatkan. Saya tidak berdoa agar dipertemukan dengan sebenar-benarnya jodoh, untuk menjalin sebentuk hubungan yang saling mendukung dan membahagiakan. Maka saya pun mengubah kalimat doa, agar diperkenankan untuk bersama seseorang yang memang digariskan untuk menemani sisa usia.

Dan begitulah cerita awal dari seorang anak manusia yang akhirnya bisa melukis kisah bahagianya sendiri.

Menikah bukanlah tujuan hidup, melainkan sebuah proses dalam kehidupan. Saya menyadari bahwa setelah menikah, saya jadi belajar banyak hal, salah satunya tentang: sabar dan ikhlas. Sebagai orang yang selalu merencanakan sesuatu dengan rinci, nenerima bahwa banyak hal berjalan tak sesuai rencana awalnya adalah hal yang mustahil. Saya ingin semuanya terkendali, terkontrol. Dan setelah menikah saya jadi belajar untuk lebih legowo, berbesar hati gitu.

Tapi meskipun orang-orang di sekitarmu sudah banyak yang menikah dan terlihat bahagia, jangan juga kamu jadi terburu-buru memutuskan untuk menikah ya. Menikahlah jika kamu sudah merasa siap dan sudah menemukan seseorang yang tepat, yaitu orang yang bersedia menerima dirimu seutuhnya dan membahagiakanmu. Ini penting, jangan sampai kamu bersama dengan seseorang yang tidak pernah merasa cukup dengan pasangannya dan justru selalu saja melihat sisi buruk sang pasangan.

Jadi sampai disini dulu corat coret saya hari ini, lain waktu kita ngobrol lagi soal apa aja yang saya beli untuk acara pernikahan saya ya.

Semoga sehat selalu. Ciao!

Posting Komentar untuk "Sebuah Alasan untuk Menikah"