Sunat Bayi, Amankah?
Halooo apa kabar kawana dan kawani? Sudah lama sekali ya ternyata aku gak menyapa kalian lewat tulisan di blog ini huhuhu *bersihin sarang laba-laba
Banyak banget loh yang mau kuceritakan sejak vakum menulis sekitar 1,5 tahun yang lalu tapi sabar ya, busui ini lagi coba ngatur jadwal dulu heu heu heu
BUSUI??
Iya, sekarang aku udah jadi busui alias ibu menyusui loh!
Eh eh eh emang kapan nikahnya? Kapan hamilnya? Kapan lahirannya? Koq tiba-tiba udah jadi busui aja?
Hehehe
Tenang tenang. Sabar. Satu persatu pasti akan kujawab. Berasa artis aja ya? Heu heu heu
Sejak menikah tapi LDM alias Long Distance Marriage, kesibukanku emang nambah dimana Video Call sama suami jadi kegiatan rutin saat sebelum tidur. Dan saat aku akhirnya hamil, ternyata hormon hamil membuatku lebih gampang capek. Makanya aku terpaksa memutuskan untuk vakum dari dunia blog ini. Tapi semoga tulisan ini menjadi awal kobaran semangatku lagi untuk kembali berbagi cerita dengan kalian *_^
Tanggal 23 Juli anakku akan tepat berusia 1 tahun, benar-benar sebuah pengalaman luar biasa bagiku bisa menjaga buah hati cinta kami. Dan ketika aku menulis ini di sampingnya yang tengah tertidur pulas, adalah sebuah kebahagiaan tersendiri dapat melewati satu hari lagi penuh pembelajaran.
Empat hari lalu, aku membawa putraku ke klinik untuk melakukan sunat. Niatku sejak awal memang ingin dia disunat saat bayi, namun saat di klinik aku akhirnya tahu dari informasi dokter yang menangani kalau lubang pipis anakku ternyata sangat kecil sekali. Disitulah aku sadar alasan mengapa selama ini pipis anakku terasa sedikit. Keputusanku yang awalnya terdengar kejam karena membawanya sunat lebih cepat, sekarang justru jadi sebuah pilihan paling bijak yang bisa aku ambil sebagai orang tua.
Aku memilih klinik dekat rumah untuk melakukan sunat. Dokter yang menangani kami sempat melontarkan beberapa pertanyaan padaku seperti alasan mengapa aku ingin menyunat anak lebih cepat, siapa yang mengantar kami ke klinik, serta sejauh mana aku tahu risikonya sunat bayi. Saat aku sebagai orang tua dirasa siap dengan segala risiko, dokter kemudian membawa kami ke ruang tindakan.
Dengan dipegani 2 orang perawat, tindakan sunat pun dilakukan dengan metode laser. Tak banyak darah yang keluar saat prosesnya, setelah dijahit dan diperban, tindakan sunat pun selesai. Anakku langsung bisa menggunakan popok sekali pakainya lagi dan ia sudah berhenti menangis.
Lucunya keputusanku untuk sunat akhirnya bikin heboh para staff di klinik dan tetangga rumah. Mungkin karena hal ini memang belum ramai dilakukan orang tua ya jadi masih bikin kaget beberapa orang yang mendengarnya.
Dengan biaya hanya 550 ribu rupiah, kami pulang dengan membawa obat sirup antibiotik dan pereda nyeri yang diresepkan untuk diminum 3x sehari. Malam setelah sunat, anakku sempat rewel, hatiku mencelos saat ia beberapa menangis karena pipis. Selama sedetik aku sempat meragukan apakah keputusanku membawanya sunat adalah hal yang benar atau tidak. Kugenggam tangannya yang menggigil sambil terus meminta maaf. Malam kedua setelah sunat, ia hanya sesekali menangis saat ganti popok. Hari ketiga setelah sunat, ia sudah ceria lagi seperti tak ada hal besar yang terjadi kemarin. Dan hasil kontrol tadi pagi, dokter bilang jahitannya bagus, luka terlihat sudah masuk dalam proses penyembuhan, jadi kami gak perlu kontrol lagi. Yeay senangnya 9(°>°)9
Sekarang kalau ditanya, aku jadi pro sunat bayi sih. Selain minim trauma pada anak, perawatan lebih mudah, proses penyembuhannya juga lebih cepat. Kalau kamu punya pengalaman sunat anak juga, yuk ceritain di kolom komentar.
Posting Komentar untuk "Sunat Bayi, Amankah?"