Mau ke mana di Majalengka?


Marhaban ya Ramadan. Selamat datang bulan suci umat Islam...

Enggak terasa ya ini jadi Ramadan ketiga di tengah pandemi COVID-19. Semoga kita senantiasa diberi kesehatan. Aamiin. Dan juga tak lupa saya ucapkan selamat menunaikan ibadah puasa bagi teman-teman muslim yang menjalankan. Semoga amal kita semua diterima oleh Allah SWT. Aamiin.

Sesuai dengan judulnya, tulisan saya kali ini akan membahas kumpulan pengalaman berlibur di Majalengka. Siapa tahu bisa jadi referensi kalian yang pengen memanfaatkan libur lebaran, ya 'kan?

Curug Kapak Kuda


Mungkin tak banyak situs yang merekomendasikan tempat wisata ini karena akomodasinya yang kurang memadai. Untuk parkir kendaraan misalnya, kamu perlu menumpang di lahan pribadi rumah penduduk sekitar. Namun pemandangan alam menuju Curug Kapak Kuda bisa jadi merupakan pemandangan yang telah lama kamu rindukan.

Berlokasi di Dusun Tapak Kuda, Lemahsugih, Sidawangi, Curug Kapak Kuda juga dikenal sebagai Curug Citerus. Saya perlu menempuh sekitar 2 jam perjalanan dan beberapa kali nyasar untuk sampai ke tempat ini hahaha


Sungguh pemandangan hijaunya sawah dan pepohonan, serta kabut yang menyelimuti gunung, benar-benar akan menyegarkan hati dan juga pikiranmu. Sebelum sampai tujuan, ada baiknya kamu berhenti di alun-alun Bantarujeg untuk membeli sekadar jajanan pasar atau mencicip bubur ayam khas Majalengka dengan siraman tulang ayam kuah kuning seharga Rp 12.000.

Disarankan untuk datang sekitar bulan Desember - Februari (saat musim hujan) supaya kamu bisa mendapatkan pemandangan alam yang maksimal.

Waduk Lemah Jati Gede


Wilayah Majalengka yang memang berbatasan dengan banyak daerah, memungkinkanmu mendatangi tempat wisata yang berlokasi di Lingkar Timur, Jatigede, Sumedang, ini dengan waktu tempuh yang tak terlalu lama. Menyantap cemilan jagung bakar dan secangkir kopi atau teh manis hangat ditemani pemandangan waduk berwarna biru kehijauan dengan latar gunung nan berkabut tentu akan sangat syahdu.

Tiba-tiba lapar? Enggak usah khawatir! Kamu bisa dengan mudah menemui menu pilihan di warung makan yang berjajar di sepanjang jalan.

Saya kala itu memutuskan untuk mampir di salah satu kedai dengan menu andalan Sate Maranggi. Sambil tiduran melepas penat di bale-bale, pesanan saya akhirnya siap setelah menunggu selama sekitar 30 menit. Untuk harga 20 tusuk sate, sebakul nasi pulen yang masih mengepulkan uap, dan seteko teh tawar hangat, kamu cukup merogoh kocek sebesar Rp 70.000 saja. Lumayan terjangkau kan?

Rasanya enak tapi sayang saya lupa ambil foto karena terlalu lapar huhuhu

Gunung Tilu

Gunung Tilu berlokasi di Desa Girimukti, Kasokandel, Majalengka. Sesuai namanya, Gunung Tilu merupakan jajaran tiga gunung batu setinggi kurang lebih 50 meter.

Saat PPKM sedang gencar, meski baru dikembangkan sekitar tahun 2019, area wisata Gunung Tilu terpaksa tutup. Namun saat saya mengunjunginya, tempat ini ternyata belum beroperasi dengan normal. Saung-saung pun terbengkalai dan kotor. Untung saja kala itu ada sekelompok anak muda yang sedang duduk di sebuah saung meski sudah agak reyot, jika tidak, aduuuh tempat ini pasti terkesan lebih sepi lagi. Agaknya akan butuh dana yang cukup besar untuk membuat Gunung Tilu sebagai tempat wisata yang menarik minat pengunjung lagi.

Curug Cipeteuy

PPKM level 2 sedang berlaku saat saya mengunjungi Curug Cipeteuy hingga hanya pengunjung yang sudah memiliki sertifikat vaksin kedua yang boleh masuk. Tiket masuknya dibanderol Rp 15.000/ orang dan biaya parkir motor seharga Rp 5.000.


Lumayan banyak pengunjung saat saya menyambangi tempat ini. Selain pengunjung umum, ada acara kumpul-kumpul di area bagian bawah. Bahkan untuk area kolam renang pun penuh. 

Curug Cipeteuy terbilang cukup unik. Banyak jalan setapak yang akan membawamu ke lokasi berbeda. Saya juga baru tahu kalau lokasi ini ternyata juga banyak diincar anak muda untuk melatih kemampuan fotografi mereka. Sayangnya banyak spot latar foto yang rusak dan tidak bisa dipakai.

Satu lagi kelemahan Cipeteuy adalah tak banyak pilihan untuk mengganjal perut di arena wisata ini. Hanya ada satu kedai yang menyediakan menu mie instan rebus, sosis bakar, dan beberapa minuman kemasan botol.

Talaga Herang

Terletak di Kecamatan Sindangwangi, Majalengka, tempat wisata ini bisa jadi alternatif bersantai setelah selesai berkeliling Majalengka. Meski tak terlalu luas, Talaga Herang memiliki jenis ikan yang cukup beragam. Ditambah dasar yang tak terlalu dalam, kamu bisa bermain-main dengan ikan yang ada disini.


Untuk soal mengganjal perut, cukup banyak pilihan rumah makan yang tersedia di sini. Kala itu saya memutuskan untuk mampir di Warung Ikan Bakar Mang Yaya. Tempatnya cukup luas dan bersih.

Pilihan menunya lumayan banyak tapi sayangnya tak disertai keterangan harga. Untuk 1 kg ikan Gurame Goreng dan 3 macam sambal, 1 bakul nasi, dan 2 gelas es teh, kamu perlu merogoh kocek sedalam Rp 140.000. Menurut saya sih cukup mahal untuk ukuran rumah makan kabupaten ya tapi rasanya lumayan enak koq.

Perjalanan saya di Majalengka sepertinya belum akan berakhir. Masih banyak tempat yang sudah masuk dalam daftar dan pelan-pelan terus bertambah. Semoga pandemi segera menghilang supaya kita bebas jalan-jalan lagi. Aamiin!

Jadi gimana, tertarik berkunjung ke Majalengka?

Tidak ada komentar